“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain beserta Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertobat." (QS al-Furqan: 68-70).
Bagaimana dengan penguasa yang pendusta? Seseorang mendapat amanah sebagai penguasa itu tidaklah ringan tanggung jawabnya. Dia hendaknya menjadi pelayan rakyat dan berkewajiban membawa rakyatnya hidup makmur.
Baca Juga: Kebiasaan Ini Dilarang Rasulullah tapi Sering Kita Lakukan Tanpa Disadari
Kedustaan itu bisa menutup mata hati terhadap kebenaran, sebagaimana yang dilakukan orang Yahudi terhadap kerasulan Muhammad SAW. Adapun cara yang paling efektif untuk mengatasi penyakit dusta ini adalah dengan bersikap diam. Karena dengan diam, maka pembicaraan menjadi berkurang. Secara otomatis akan mengurangi kesalahan.
Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih berat bagi setan daripada orang alim yang berbicara berdasarkan ilmu, berdiam juga berdasarkan ilmu.”
