Agama memiliki nilai sakral bisa menghipnotis pemeluknya dengan nilai dan norma yang dimilikinya, untuk menjadi pedoman dalam mengharmoniskan kehidupan.
Indonesia dalam tatanan keragaman beragama dan etnisnya, sering menjadi sumber bibit konflik, kerusuhan dengan memakai simbol-simbol agama dan sentimen keagamaan.
Namun, teori konflik dalam asumsi pemikiran Coser dalam ilmu sosiologi mengajarkan, tidak semua konflik itu destruktif, bahkan ada konflik yang produktif.
Baca Juga: Manusia dan Budaya Simbol
Dalam presfektif sosiologi konflik, bisa melahirkan solidaritas baru, dan agama menjadi hal penting sebagai perekat. Mahirkan solidaritas sosial, menciptakan integrasi sosial, dan persaudaraan menuju resolusi konflik dalam mengurai perbedaan. (*)
