Sebuah survei tahun 2021 terhadap 5.800 pasangan menikah menemukan bahwa mereka menginginkan lebih banyak anak daripada yang sebenarnya mereka rencanakan. Namun mereka akhirnya tidak memiliki anak karena alasan keuangan.

Fenomena 'resesi seks' berujung pada penurunan angka kelahiran. Dalam beberapa dekade, ahli demografi memperkirakan akan ada lebih banyak kakek-nenek dari pada cucu imbas dari penurunan angka kelahiran.

Penurunan angka kelahiran berarti di masa depan, populasi orang tua akan lebih banyak dari usia produktif. Pada negara yang angka kelahirannya rendah, pemerintah harus memikirkan cara merawat populasi yang kebanyakan sudah lanjut usia.

"Di masa mendatang hanya akan ada sedikit anak-anak dan banyak manula, dan ini akan sangat sulit untuk mempertahankan masyarakat global," kata Direktur Institute for Health Metrics and Evaluation di University of Washington, Christopher Murray.

Baca Juga: Fenomena Resesi Seks yang Berimbas Godoksa Mengancam Korea Selatan