KENDARI, TELISIK.ID - Bahasa daerah di Sulawesi Tenggara sedang terancam punah akibat jumlah penutur yang semakin sedikit. Kurangnya penutur bahasa daerah bisa ditemukan pada generasi Z (1997-2012) dan generasi Alpha (2013-2025) yang ternyata disebabkan keluarga dan lingkungan sekitar.
Generasi muda di Sulawesi Tenggara, mayoritas sudah kesusahan dalam menuturkan bahasa daerahnya sendiri, baik itu bahasa Tolaki, Buton, Muna Moronene dan lainnya. Mereka hanya mampu memahami arti dari bahasa tersebut.
“Saya tidak lancar, kaya misalkan mau bicara cepat begitu sering tersendat dan tidak cocok kata yang saya pake. Hanya kalau artinya saya tau,” ujar seorang anak muda, Selasa (5/12/2023). Dia juga menyampaikan, teman-temannya juga begitu.
Ia juga mengatakan, tidak pernah mendengar adiknya menggunakan bahasa daerah sama sekali, adiknya kelahiran 2005. Dia kesehariannya hanya menggunakan bahasa Indonesia.
Baca Juga: Assessment Center Polda Sulawesi Tenggara, Seleksi Jabatan Tinggi Pratama Buton Selatan 2023
