Jawa Barat, PDIP bukan hanya tidak siap, dalam bahasa sarkistis, PDIP hanya ingin meramaikan bursa calon saja. Ketidaksiapan ini terlihat dari absennya kandidat yang diusung PDIP saat proses pendaftaran di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat. Drama banyak terjadi, sehingga jelas ketidaksiapan PDIP kentara sejak awal dengan munculnya nama-nama kandidat potensial yang akan diusung di Pilkada Jabar.
Nama-nama seperti Sandiaga Uno, yang malah menolak sebagai cagub Jawa Barat dari PDIP, lalu Anies Baswedan yang juga menolak karena para pendukungnya menginginkan Anies di Jakarta, dan Ono Surono kader PDIP yang selalu mencuat namanya sebagai cawagub, namun ternyata tidak ada satu pun yang akhirnya difinalkan sebagai kandidat.
Ketidaksiapan PDIP semakin terlihat ketika pasangan yang diusung, Jeje Wiradinata dan Ronal Surapradja, tidak hadir secara fisik saat pendaftaran di Kantor Pemilihan Umum Daerah (KPUD) pada Kamis malam lalu. Jika dicermati jelas bahwa desain 5 Jawa plus 1 Sumatra Utara masih terjadi. Hanya saja wilayah Banten benar-benar dilematis KIM Plus sehingga menjadi KIM Minus.
Sedangkan di Jawa Timur dan Jakarta masih menunjukkan Presiden Jokowi dapat tersenyum puas, karena dua menteri di kabinet menjadi calon gubernurnya. Sedangkan sisi lain, Pemerintahan Jokowi dan partai-partai politik dari KIM Plus tersenyum puas karena Anies Baswedan hanya menjadi penonton di Pilkada Serentak 2024.
Anies Baswedan hanya sekadar bagian dari drama di Jakarta dan Jawa Barat dengan ending yang kurang seru. Fakta inilah yang dapat dipelajari dari situasi pencalonan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur di daerah 5 Jawa dan 1 Sumatra Utara. (*)
