Amir bercerita, sedari pagi hingga siang belum juga mendapat penumpang, ditambah lagi setiap harinya ia memberi setoran pada pemilik becak, padahal biaya makannya setiap hari kadang tidak mencukupi.

Ia mulai menarik roda becak yang disewa biasnya mulai pukul 06.00 pagi hingga jelang Magrib, tak kenal hujan maupun panas. Terkadang sakit yang dialami karena kecapean, sembuh di jalan bersamaan dengan deraian keringat yang membasahi tubuhnya.

"Biasanya sakit kepala sedikit sembuh di jalan sambil roda beca, tidak mungkin kalau kita sakit sedikit mau dibawa di rumah sakit," uacapnya.

Tempat ia tinggal di Kota Kendari yakni numpang bersama orang lain, sehingga terkadang hatinya sering merasa tidak enak, namun apa boleh buat, tidak ada tempat tinggal atau keluarga diperantauan.

Berprofesi sebagai pengendara becak tidaklah mudah untuk saat ini yang semua sudah moderen, dan banyak orang telah memiliki kendaraan pribadi digunakan.