Momentum bulan puasa menjadi hal yang strategis, sehingga banyak politisi yang menggunakan topeng di bulan Ramadan. Para pemilik topeng telah memperbarui cat, mengubah karakter dan mencoba memakai topengnya dengan lebih hati-hati. Antara gesture tubuhnya dan karakter topeng tidak berbeda jauh.

Hari-hari kedepan di bulan Ramadan  penting memakai topeng, sebab para politisi akan menemui rakyat, ia memastikan selalu tersenyum kepada rakyatnya meskipun dalam hati dan pikiranya sudah mempunyai rencana jangka panjang untuk  kelangsungan dirinya dan keluarga.

Walaupun sebenarnya salah satu penyebeb dari distorsi komunikasi adalah penggunaan topeng, hal itu diungkapkan oleh Mochtar Pabotinggi (1993) bahwa dalam praktik proses komunikasi politik sering mengalami empat distorsi.

Pertama, distorsi bahasa sebagai "topeng"; ada euphemism (penghalusan kata); bahasa yang menampilkan sesuatu lain dari yang dimaksudkan atau berbeda dengan situasi sebenarnya, bisa disebut seperti diungkapkan Ben Anderson (1966), "bahasa topeng."

Kedua, distorsi bahasa sebagai "proyek lupa"; lupa sebagai sesuatu yang dimanipulasikan; lupa dapat diciptakan dan direncanakan bukan hanya atas satu orang, melainkan atas puluhan bahkan ratusan juta orang. Ketiga, distorsi bahasa sebagai "representasi"; terjadi bila kita melukiskan sesuatu tidak sebagaimana mestinya.