"Pada film experimental dokumenter tersebut saya mengangkat falsafah Buton, yakni Sarapatanguna yang sudah tidak relevan dengan kondisi Buton saat ini, khususnya di Baubau. Dimana terjadi maraknya kisruh antar kelompok warga, maupun konflik horizontal antara masyarakat dengan pengambil kebijakan," ungkapnya.

Salah satu dialog kuat dalam film ini berbunyi "Mengalir dalam setiap gerakan, dan setiap helaan nafas. Bukan hanya warisan mia patamia, tetapi juga sebuah jalinan yang menghubungkan sara sara yang telah berlalu diganti demagog-demagog, seakan melupakan tentang menyayangi, merawat, tegang rasa, dan rasa hormatnya.

"Alhamdulillah, Film ini ditayangkan di Studio TV ISI Yogyakarta dan proses penciptaannya melibatkan riset, observasi, dan wawancara selama satu setengah bulan, diikuti dengan pembuatan naskah selama seminggu, latihan selama tiga hari, dan syuting selama dua hari di Baubau dan Makassar," tutur Chendy

Chendy juga mengungkapkan keresahannya terhadap budaya Patriarki melalui teater eksperimental yang terinspirasi dari tradisi "posuo" Buton, yang menggambarkan proses kurungan perempuan yang memasuki fase dewasa.

Teater ini mengangkat isu patriarki yang membatasi peran perempuan dalam urusan dapur, sumur dan kasur semata serta feminisme yang mendorong perempuan untuk hidup mandiri tanpa laki-laki. Bersama Ma’rifatul Latifah, Chendy memerankan pementasan ini di Tuwuh, Yogyakarta.