Berit Brogaard, seorang profesor fislafat di University of Miami, memindai otak Padgett dengan pencitraan resonansi magnetik fungsional (FMRI) guna memahami bagaimana Padgett memeroleh kemampuan matematikanya yang hebat dan sinestesia yang memungkinkan dia memahami rumus-rumus matematika sebagai suatu angka geometris.
Dari hasil pemindaian menunjukkan adanya aktivitas signifikan pada otak kiri Padgett, di mana keterampilan matematika Padgett terbukti dikelola oleh otak bagian kiri. Otaknya menyala paling kuat di korteks parietal kiri, area di belakang mahkota kepala yang diketahui untuk memadukan informasi yang dikirim dari berbagai indra.
Ada juga beberapa aktivasi di bagian lobus temporal (perihal memori visual, pemrosesan sensorik serta emosi) dan lobus frontal (perihal dalam fungsi eksekutif, perencanaan dan perhatian).
Sebelum mengalami cedera, Padgett dikenal sebagai seorang atlet dan juga pelukis. Pria asal Tacoma, Washington ini pun bukan termasuk orang yang menonjol dalam bidang akademis. Bahkan, ia tak lulus dalam ujian pra-aljabar dalam pelajaran matematika.
Namun, setelah cidera kepala akibat dari penganiayaan yang dialaminya, Padgett secara ajaib mampu mengembangkan kemampuan visual matematis dan konsep fisika secara intuitif. (C)
