Sejak 2014 lalu ia bergabung di IMM, aktif mengisi berbagai perkaderan, pengajian, dan kegiatan lainnya. Telah terbiasa dengan segala dinamika di dalamnya. Telah terbiasa tertawa terbahak, telah terbiasa juga menangis sendu, telah terbiasa juga berdebat sengit. Semua orang tak ada yang ingin keluar dari rumah yang penuh dengan suasana kekeluargaan. Lagi, ia mesti lakukan itu demi mimpinya, ke negeri sakura.

Tepat Rabu (12/2/2020) ia mulai mengikuti kurus, sehari setelah sampai di Makassar. Setiap tiga kali sepekan tepatnya Senin,  Rabu, dan Jumat harus mengikuti kursus tersebut. Setiap harinya, enam jam harus berjibaku dengan mentor dan teman-temannya. Mulai dari mengeja huruf, melafazkan kata, dan menulis dalam aksara kanji. Ia jalani dengan tekad dan imaji mekarnya bunga sakura yang indah.

Pandemi yang telah merenggut ribuan nyawa itu memapar hampir seluruh negara di dunia, sekaligus meluluhlantakkan manusia bahkan negara, kesehatan, hingga ekonomi. Memunculkan rasa takut akut kepada siapa saja. Akhirnya, Jumat, 20 Maret 2020 pihak Kaori Bunka, pengelola kursus, menginstruksikan agar kurus dihentikan sementara, hingga batas waktu yang tidak ditentukan.

Instruksi tersebut seperti pil pahit bagi Indi. Tapi, tak ada daya untuk memberontak. Indi menyadiri bahwa semua harus patuh pada protokol kesehatan demi keselamatan dan kemaslahatan dirinya dan juga orang lain.

"Sebenarnya saya masih mau lanjut, tapi karena corona, pulang dulu mengabdi di kampung," tulisnya dalam pesan WhatsApp, Sabtu (18/4/2020). Ia mengatakan, saat ini tetap belajar bahasa Jepang secara mandiri. Ia menelan segela getir dan tetap tegar untuk melanjutkan mimpinya bertandang ke negeri yang terkenal dengan makanan khas seperti sushi, sashimi, ramen dan shabu-shabu itu.