"Puasa dan COVID-19 adalah double revolusi. Secara spiritual kita sedang puasa. Secara psikologi, fisik, dan sosial, kita membatasi beraktivitas karena pandemi," ujarnya.

Dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini juga mengatakan, dalam sejarah, puasa adalah alat perlawanan seperti yang dilakukan Mahatma Gandhi dalam melawan kolonialisme.

Ketua Serikat Taman Pustaka itu menyampaikan bahwa ada tiga nilai revolusi puasa di tengah pandemi seperti saat ini. Pertama, bisa meningkatkan kesadaran. Menurutnya di masa-masa seperti sekarang ini kesadaran manusia lebih mudah dilakukan radikalisasi. Pandemi meniscayakan manusia untuk ramah kepada alam.

Pandemi COVID-19 telah memaksa manusia memilih lebih banyak berdiam di rumah, sehingga konsekuensi logisnya tidak terlalu banyak menghabiskan sumber daya, misalnya bahan bakar minyak. Termasuk juga memaksa banyak perusahaan menutup perusahaannya, maskapai penerbangan menutup penerbangannya.

"Kesadaran ekologi harus diperkuat dengan kembali kepada tuntunan dalam agama kita," sambungnya. Ia kemudian menyebutkan larangan merusak tatanan alam yang sudah demikian rapi ditata oleh Tuhan. Anjuran Nabi SAW untuk menanam bahkan sehari sebelum kiamat, seperti tertuang dalam hadis “sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma, maka apabila dia mampu menanamnya sebelum terjadinya kiamat maka hendaklah dia menanamnya” (HR. Imam Ahmad 3/183, 184, 191, Imam Ath-Thayalisi no.2068, Imam Bukhari di kitab Al-Adab Al-Mufrad no. 479 dan Ibnul Arabi di kitabnya Al-Mu’jam 1/21 dari hadits Hisyam bin Yazid dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu).