Baca juga: Politisi Berempati, Bukan Pencitraan
Belum cukupkah dengan kematian ratusan petugas penyelenggara pemilu di Indonesia tahun 2019, dan di Sulawesi Tenggara sakitnya 436 penyelenggara pemilu dan meninggalnya 6 orang badan adhoc, apakah ini bukan pelajaran bagi demokrasi di Indonesia agar lebih berhati-hati dan memikirkan secara komprehensif semua efek yang akan ditimbulkan, karena pemilu kita bukan hanya mahal tapi telah mengorbankan nyawa banyak orang yang sampai saat ini masih menunggu santunan dari KPU yang tidak jelas.
Semua uraian di atas jelas penuh dengan ketidakpastian serta keraguan dan yang pasti hanya satu bahwa bulan Ramadan pasti berlalu dan akan membawa catatan berbagai ibadah yang dilakukan di hadapan Sang Khalik dan akan memvonis apakah kita termasuk orang-orang yang bertakwa atau tidak.
Sang Khalik yang jauh lebih tahu dari Bawaslu, apakah bantuan dari 7 petahana di Sultra hari ini pada warganya adalah bantuan pencitraan agar bisa dipilih kembali atau sebuah keikhlasan. Namun, yang pasti kita sudah menang melawan “setan” karena telah menyelesaikan puasa selama 30 hari walaupun dalam suasana ketidakpastian.
Semoga tahun depan kita tetap sehat dan panjang umur sehingga dapat dipertemukan kembali dan momentum untuk semua bercerita bagaimana pengalaman berpuasa saat pandemi COVID-19, saat di Kota Kendari terjadi panic buying karena kebijakan walikota yang tidak disosialisasikan dengan baik, dan semua pengalaman lain akan jadi sebuah sejarah jika bertemu Ramadan tahun depan.
