Riset menunjukkan prevalensi nasional mencapai 0,59 persen atau 1 dari 170 orang, dibanding 0,15% pada periode akhir Mei-awal Juni.

"Sangat sulit membuat argumen, berdasarkan data yang kami peroleh, bahwa ini hal yang bagus untuk membuka lebih cepat (sektor ekonomi)," kata Steven Riley, profesor dinamika penyakit menular dari Imperial College London kepada pers di London, Kamis (8/7/2021).

Dikatakan, pemerintah harus mempertimbangkan faktor-faktor non-epidemiologis lainnya sebelum mengambil keputusan.

Baca Juga: Hasil Euro 2020: Menang Dramatis dari Denmark, Inggris vs Italia Tersaji di Final

Baca Juga: 30 ABG Ribut di Pesawat Gegara Tolak Pakai Masker, Penerbangan Tertunda