Di akhir pelatihan nantinya, peserta dengan hasil karya terbaik, lanjut Arie Toursino Hadi, akan diberi hadiah berupa satu set alat canting beserta lilinnya.

"Alat ini memang tidak ada di Baubau jadi kalau dijadikan hadiah itu sangat membantu peserta untuk meneruskan karyanya dalam membatik," tuturnya.

Instruktur lainnya dosen Jurusan Sastra Jawa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Widhyasmaramurti mengatakan, dia fokus memberikan pelatihan pewarnaan kain menjadi batik. Ia juga menilai selama memberikan pelatihan, hampir tidak menemui kesulitan dalam mengarahkan peserta.

Widhyasmaramurti menjelaskan bagaimana proses membatik mulai dari melukis motifnya, mencanting, mewarnai hingga sampai dengan tahap akhir mencelupkan kain katun dalam bahan pewarna kimiawi lalu mencuci dan menjemurnya. Dalam pelatihan ini Widhyasmaramurti menjelaskan, pihaknya menggunakan pewarna berbahan kimiawi dan tidak menggunakan pewarna berbahan alami agar prosesnya lebih cepat.

"Kalau menggunakan bahan pewarna alami prosesnya makan waktu lama. Sementara dalam pelatihan ini waktunya terbatas. Alasan lainnya juga jika menggunakan pewarna alami, hasilnya memang bagus tapi harganya sangat mahal," kata Widhyasmaramurti.