Oleh: Abrar

Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sulawesi Tenggara, sosiolog olahraga dengan spesialisasi pada irisan kekuasaan, tata kelola, dan intervensi politik dalam arena olahraga

SITUASI pelik sempat membayangi langkah Timnas Indonesia menjelang pertandingan penentuan Grup A FIFA ASEAN Cup 2026. Indonesia dan Malaysia sama-sama mengoleksi empat poin, tetapi Harimau Malaya berada di atas Garuda karena keunggulan selisih gol.

Karena itu, pertandingan terakhir menjadi pertarungan yang tidak sekadar membutuhkan kemenangan, melainkan juga produktivitas gol yang masif. Apalagi pertandingan Indonesia melawan Bangladesh dan Malaysia melawan Singapura dimainkan secara bersamaan, sehingga setiap gol di Jakarta maupun Bandung dapat mengubah peta persaingan secara langsung di atas lapangan.

Pada titik inilah drama sepak bola berubah menjadi perlombaan produktivitas gol yang menegangkan. Indonesia tidak cukup hanya menang; Garuda harus mencetak gol sebanyak mungkin untuk melampaui posisi Harimau Malaya yang mengantongi keunggulan marjin gol.