"Sebagian crew yang saya libatkan adalah warga desa setempat. Saya salut untuk semua tim baik pemain dan crew, yang memahami kondisi di lokasi yang tentu nilai ego sutradara sudah sangat berperan akibat waktu yang sangat kritis," ungkapnya.

Film yang diproduksi oleh Teramedia Group dibuat dalam kurun waktu 2 hari dan melibatkan mahasiswa KKN UGM dan masyarakat setempat sebagai aktornya.

Sementara itu, Wani, salah satu warga Desa Namu menyampaikan, ada beberapa wisata di Desa Namu yaitu air terjun, pantai, serta area diving dan snorkeling namun yang paling iconic dari desa ini adalah tempat diving dan snorkelingnya.

"Wisatawan terjauh yang pernah datang di Desa Wisata Namu adalah wisatawan dari Australia, ada juga yang dari Prancis. Setiap wisatawan yang datang paling tertarik untuk mencoba sensasi snorkeling di lautan Desa Namu, karena terumbu karang yang ada di desa tersebut masih alami, dan biota lautnya juga masih banyak yang unik-unik, hampir sama dengan Wakatobi," jelasnya.

Baca Juga: Bahaya Menonton Film Porno Bisa Merusak Otak, Ini Alasannya