"Akhirnya siapa yang harus menanggung beban ini? Ya Ibu rumah tangga, para emak-emak yang setiap hari sudah dibebani cara mengirit pengeluaran karena ekonomi keluar sedang bangkit sejak pandemi, ditambah beberapa kenaikan komoditas pokok dan sekarang dapat kado kemerdekaan berupa harga BBM subsidi naik. BBM subsidi naik, emak-emak makin menjerit," kata pegawai kantoran ini.
Senada dengan ustad Rofii, salah satu Ibu rumah tangga yang ikut melakukan aksi bernama Kurniasih mengatakan. kenaikan harga BBM dipastikan akan berpengaruh pada harga sembako yang merupakan kebutuhan harian masyarakat.
"Sementara daya beli masyarakat belum tentu naik, bahkan menurun. Kalau sembako naik, belum tentu uang belanja dari suami naik. Apa mungkin bikin kopi tanpa gula?" katanya.
Dikatakan olehnya, opsi yang seharusnya dilakukan pemerintah sejak dulu adalah mengolah sendiri minyak hasil dalam negeri, terutama untuk minyak tanah dan premium.
Baca Juga: Kedepankan Pelayanan, Pasien Miskin Kini Dapat Berobat di BLUD RS Konawe
