“Aku bangun-bangun, wallahu a'lam, nangis. Itu bisa 10 kali setiap minggu pasti ada. Gua pikir itu mungkin karena lagu Wali,” kenangnya.
Hanzel, yang sebelumnya begitu taat pada agamanya, mulai merasa gelisah. Hatinya tertarik pada Islam, namun ia merasa bingung dan tak tahu harus berbuat apa.
Keinginan untuk mempelajari Islam semakin membesar, namun rasa takut dan keraguan membuatnya menunda-nunda.
“Mau enggak mau ya sudah aku ikuti alurnya. Sampai suatu ketika lulus SMP, pindah ke Cibinong, Bogor. Dari banyaknya SMA, orang tua justru memilih SMA yang ternyata kepala sekolahnya Kiai Haji. Jadi, Islam-nya kental banget,” ucap Hanzel.
Kegiatan keagamaan di sekolah menjadi titik balik bagi Hanzel. Saat duduk di bangku kelas 2 SMP, ia yang awalnya hanya sekadar mengikuti kegiatan tersebut, justru menemukan hidayah saat mendengarkan tausiyah Islam yang menggema dari speaker masjid.
