"Saya selaku Gubernur Sumatera Utara saya bersama dengan Kapolda dan Kejaksaan Tinggi akan melihat apakah ada dampaknya meluas atau bagaimana. Saya tidak mau melihat rakyat saya sengsara," terangnya.
Kepala Bidang Humas Polda Sumatera Utara, Kombes Pol Hadi Wahyudi mengaku, perkara dugaan keracunan sedang dalam proses penyelidikan.
"Tim sedang memeriksa sejumlah saksi atas dugaan kebocoran gas dari perusahaan itu. Untuk perkembangan, nanti kami sampaikan," terangnya.
Sebagaimana diketahui, perusahaan ini diduga telah membuat 5 orang warga tewas, tepatnya pada 25 Januari 2021. Lalu 6 Maret 2022 ada 58 orang mengalami keracunan, 24 April 2022 ada 21 orang, September 2022 ini sudah dua kali terjadi. Pada 16 September 2022 lalu, ada 8 orang dan 27 September 2022 ada sekira 41 orang yang diduga mengalami keracunan. (B)
Penulis: Reza Fahlefy
