KENDARI, TELISIK.ID - Dalam menjadi kehidupan ini manusia diperhadapkan berbagai macam perbuatan. Perbuatan itupun manusia bebas memilih untuk melakukannya atau tidak.
Namun, manusia biasanya menilai sesuatu perbuatan dari dampaknya, apakah mendatangkan manfaat atau madarat (dharar).
Jika sesuatu dinilai bermanfaat, ia akan disebut baik (khayr). Sebaliknya, jika sesuatu dinilai mendatangkan madarat, ia akan disebut buruk (syarr).
Bila standar sesuatu hanya atas dasar hawa nafsu manusia, maka tidak ada kebenaran yang hakiki. Bisa saja hari ini sesuatu itu baik, karena manfaatnya banyak, di masa berikutnya sesuatu itu dianggap buruk karena madaratnya lebih banyak.
Penggunaan standar hawa nafsu manusia untuk menilai baik-buruk sesuatu sangat berbahaya. Pasalnya, kadangkala manusia membenci sesuatu yang sejatinya baik. Sebaliknya, acapkali manusia menyukai sesuatu yang sejatinya malah buruk.
