"Jika ini terjadi maka berdampak pada kelangsungan hidup nelayan Desa Katela," ujarnya.

Nelayan lainnya, Edi, mengaku jika alat ini dibiarkan beroperasi selama dua atau tiga bulan maka bisa membuat masyarakat Desa Katela mati kelaparan, karena di pulau Katela tidak memiliki lahan untuk berkebun, sehingga hanya mengandalkan hasil nelayan.

"Jadi kalau ikan mulai langkah maka kelangsungan hidup nelayan Desa Katela terancam," ungkapnya.

Edi juga mengatakan, alat tangkap perre-perre ini asalnya dari Sulawesi Selatan, yang mana alat ini masuk di Muna Barat sejak awal tahun 2023 lalu.

Alat ini diduga dikelola oleh oknum pengusaha ikan di Desa Mandike, dan alat tangkap ini diperkirakan enam unit dengan harga Rp 100 juta per unit.