Dalam kondisi tersebut, pendidikan tinggi tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik. Mahasiswa juga membutuhkan kemampuan berpikir kritis, kepemimpinan, komunikasi, kolaborasi, kreativitas, serta kemampuan memahami dan merespons persoalan sosial.
HMI Koorkom UNJ memandang perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membangun ekosistem yang memungkinkan mahasiswa mengembangkan berbagai kapasitas tersebut.
Pengembangan kapasitas mahasiswa dapat dilakukan melalui penelitian, inovasi, pengabdian kepada masyarakat, kegiatan organisasi, maupun program pengembangan kepemimpinan.
Arief mengatakan organisasi kemahasiswaan dapat menjadi salah satu ruang yang melengkapi proses pendidikan formal di perguruan tinggi.
“Kampus dan organisasi mahasiswa memiliki ruang yang besar untuk saling melengkapi. Pendidikan formal memberikan fondasi akademik, sementara organisasi menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar memimpin, mengelola persoalan, berdiskusi, dan berinteraksi langsung dengan masyarakat,” katanya.
