Ketika kita ditanya, "Apa kabar?" Jawaban kita biasanya, "Baik." Namun, tahukah kita dari mana asal kata baik itu? Ia berasal dari bahasa Arab, labaik. Lebih jauh, ucapan itu adalah sunah Rasulullah SAW.
Aisyah ra meriwayatkan, "Tidaklah aku dapati seseorang yang akhlaknya lebih bagus dari Rasulullah SAW. Apabila dipanggil oleh sahabat atau keluarganya, dia selalu menjawab (labaik)." Atas perilaku Rasulullah SAW yang mulia itu, Allah SWT memujinya (QS al-Qolam: 4).
Maka, Ibnul Qayyim memberikan contoh, boleh jadi saat kau tertidur lelap, pintu-pintu langit tengah diketuk oleh puluhan doa; dari orang miskin yang telah kau tolong; dari orang lapar yang telah kau beri makan; dari yang bersedih dan telah kau hibur; dari orang yang berjumpa denganmu dan kau berikan senyuman; dari orang yang galau dan berbagi denganmu; karena itu jangan pernah meremehkan amalan-amalan kebaikan sekecil apa pun.
Namun amalan ringan harus dibarengi dengan niat yang lurus dan ikhlas. Mengapa? Sebab penyakit syirik ashgar atau riya dapat menjangkit pada siapa saja, bahkan seorang yang alim.
Rasulullah bersabda, "Maukah kalian kuberitahu tentang sesuatu yang menurutku lebih aku khawatirkan terhadap kalian daripada (fitnah) dajal?" Para sahabat berkata, "Tentu saja". Beliau SAW berkata, "Syirik khafi (yang tersembunyi), yaitu ketika seseorang berdiri mengerjakan salat, dia perbagus salatnya karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya."
