Sementara dalam riwayat Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan bahwa wudu dapat mengangkat derajat seseorang. Dengan catatan, wudu tersebut ditunaikan dengan sempurna.

Pernah suatu ketika, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepada para sahabat, Artinya, “Maukah kalian aku tunjukkan kepada kalian atas apa yang membuat Allah menghapus kesalahan dan mengangkat derajat?” Para sahabat menjawab, “Tentu, ya Rasul.” Beliau melanjutkan, “Menyempurnakan wudu di pagi hari yang dingin, bersabar menghadapi perkara yang tidak disenangi, memperbanyak langkah ke masjid, dan menanti salat setelah salat. Itulah ribath,” (HR. Muslim). Maksud ribath di sini adalah benteng dari musuh.

Lebih istimewa lagi, ketika seseorang berwudu dan masih dalam keadaan memiliki wudu sebelumnya. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, disebutkan, sepuluh kebaikan telah menanti orang yang berwudu dalam keadaan belum batal wudu. “Siapa saja yang berwudu dalam keadaan suci, maka dicatat baginya sepuluh kebaikan.”

Bahkan, terang dan tidaknya wajah seorang hamba pada hari kiamat, salah satunya ditentukan pada kebiasan wudunya di dunia. Wudu-lah yang memberikan bekas pada wajah dan tangannya.

Dan bekas itu akan jelas terlihat. Makanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyarankan untuk melebihkan bagian tubuh yang dibasuh pada saat berwudu. Demikian seperti yang disebutkan dalam riwayat Abu Hurairah.