Baca juga: Seorang Santri di Konawe Tewas Tenggelam di Bendung Meluhu
Di lahan seluas 290 Ha, setiap KK memperoleh lahan seluas 2 (dua) hektar. Dan bibit nilam diberikan secara gratis. Per 2 Ha lahan, Ia bagi menjadi delapan blok dengan delapan kali penanaman, hingga pada saat blok kedelapan warga menanam, blok pertama telah dapat dipanen.
Setiap bloknya mampu menghasilkan 14 kg minyak nilam dengan harga per kilonya Rp 450 ribu, hingga setiap KK mendapatkan penghasilan Rp 15 juta setiap bulan.
"Sejak pandemi corona melanda bangsa kita, warga desa saya sangat terpuruk Pak. Karena hampir seluruh hasil ladang yang mereka jual di pasar, hasilnya sangat mengecewakan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, hampir tidak cukup," ungkap Sahlan Tawulo.
"Hingga akhirnya, dana desa saya alihkan seluruhnya untuk menanam nilam dan memanfaatkan lahan HTI yang telah saya urus statusnya melalui Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup menjadi APL. Saya bagi-bagikan kepada setiap KK seluas 2 Ha. Seluruh pembiayaan dan bibitnya saya gratiskan dengan memanfaatkan dana desa. Dan Alhamdulillah, semua warga sudah bisa menikmati hasilnya dari bercocok tanam nilam," tambahnya.
