Berbeda dengan Yanti, PSK lainnya di sekitar Stasiun Jatinegara yang lebih memilih mengajak tamunya bercinta sesaat di kos adalah Dewi (nama samaran). Dewi berkilah bahwa bermain di kos lebih aman dan tamu pun tidak perlu merasa was-was.

Aktivitas para PSK yang mangkal di luar Stasiun Jatinegara di Jalan Raya Bekasi Timur. Foto: Mustaqim/Telisik

 

“Saya lebih baik ngajak tamu ke kos karena tidak perlu lagi biaya sewa kamar dibanding sewa penginapan. Bayaran lebih bisa saya simpan untuk biaya kebutuhan anak-anak,” kata Dewi yang kos tidak jauh dari tempatnya mangkal.  

Dewi mengakui, terjun ke bisnis prostitusi bukan pilihan yang tepat. Wanita 31 tahun ini mengatakan, terpaksa “menjual diri” karena tuntutan untuk membiayai empat anaknya. “Jujur, saya belum resmi berpisah dengan suami. Tapi karena kebutuhan biaya yang besar untuk empat anak, sedangkan suami kerja tidak jelas,” katanya.  

Sementara itu, Maya (nama samaran), PSK lainnya yang mangkal di dekat Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, tak jauh dari Stasiun Jatinegara, juga mengaku harus membiayai sendiri empat orang anaknya sejak suaminya meninggal pada awal 2019.