“Menurut cerita orang-orang sini, prostitusi di Tanah Abang ini sudah ada sejak dulu, sejak zaman penjajahan. Tahun pastinya kapan dimulai, sampai sekarang kami juga belum tahu,” kata Yanto, warga Kampung Bali dan mengaku sudah puluhan tahun bermukim di wilayah itu, masih satu wilayah dengan Stasiun Tanah Abang.          

Ketika malam hari hingga menjelang pagi, para PSK yang sering mangkal di sekitar pasar dan Stasiun Tanah Abang memilih berkelompok. Sebagian di antaranya terlihat mengenakan pakaian seksi dan sebagian lagi dengan pakaian yang lebih sopan. Mereka umumnya bukan warga asli Tanah Abang.

“Saya dari Tangerang dan kerja di sini untuk bantu biaya keluarga karena saya anak tertua,” ujar Anggi (22) dan mengaku bahwa keluarga hanya tahu dirinya bekerja di warung makan.  

Rekan Anggi, Nila, juga mengaku kalau keluarganya tidak tahu dirinya terpaksa terjun ke bisnis prostitusi. Keluarga tahunya dia bekerja di kafe. Tidak punya keterampilan untuk kerja kantoran, dan hanya tamatan SMA, menjadi alasan Nila memilih pekerjaan ini. Ibu dua anak berusia 27 tahun asal Bogor, sudah tiga tahun melakoni pekerjaan ini, sejak berpisah dengan suami.

Kisah berbeda dialami oleh Santi (nama samaran). Wanita 38 tahun ini mengaku baru setahun lebih terjun ke bisnis prostitusi di Tanah Abang. Dia terpaksa menjalani bisnis haram ini karena kondisi suaminya yang sakit sudah dua tahun. Selain itu, kebutuhan biologis juga menjadi alasan bagi Santi untuk memenuhi hasratnya.