Di masa itu, rasanya belum gaul, kalau belum pernah nongkrong di Blok M, khususnya di Aldiron (sekarang menjadi Blok M Square), Melawai, atau Mahakam.

Tak sekadar berkumpul, mereka berkegiatan seru di kawasan pertokoan yang serbalengkap di masa itu. Komunitas break dance, sepatu roda, bermain musik, hingga penggila trash metal, grind core, dan punk semua menumpuk jadi satu di kawasan ini.  

Pamor Blok M seperti sulit memudar meski mengalami revitalisasi pada beberapa infrastrukturnya sehingga tidak lagi menampakkan suasana seperti era 1980-an. Di kawasan ini sudah dibangun taman literasi, stasiun LRT, dan ada juga ruang seni khusus anak muda yang diberi nama M Bloc Space.  

Suasana hidup di kawasan Blok M tidak hanya pada pagi hingga sore hari. Malam hari pun suasananya tak kalah menarik. Selain menyediakan beragam tempat makan dan minum dengan aneka menu, kawasan Blok M pun dimanfaatkan oleh para pekerja seks komersial (PSK) untuk mencari pelanggan. Mereka tidak hanya nongkrong di sekitar penginapan, bar, atau tempat karaoke di kawasan itu, tapi tak sedikit juga yang mangkal di Jalan Sultan Hasanuddin, Jalan Palatehan, dan Jalan Palatehan II.  

Belum diketahui sejak kapan para PSK yang secara terbuka menjajakan diri dan mangkal di pinggir jalan seputaran Blok M, khususnya di Jalan Palatehan, Palatehan II, dan Sultan Hasanuddin.