JAKARTA, TELISIK.ID - Aksi marah-marah Presiden Joko Widodo alias Jokowi saat rapat kabinet dua pekan lalu dianggap hal yang biasa oleh pengamat politik nasional Ray Rangkuti. Pasalnya, aksi ini kata Rangkuti sering dilakukan oleh Jokowi di awal massa kerjanya sebagai Presiden.

"Bukan sesuatu yang baru presiden Jokowi marah-marah dalam rapat anggota kabinet. Bukan juga sesuatu yang baru presiden mengancam akan melakukan reshuffle. Sejak periode pertama kepemimpinan beliau, dua hal ini juga pernah terjadi, berkata keras dan menyiratkan akan melakukan reshuffle. Tapi, biasanya hanya berlaku sesaat dan setelah itu akan kembali sunyi," kata Rangkuti lewat keterangan persnya yang diterima Telisik.id di Jakarta, Senin (29/6/2020).

Menurut pendiri lembaga Lingkar Madani ini, aksi marah-marah dan ancaman Jokowi ini tidak akan terjadi dikemudian hari, karena respon para menterinya biasa saja dan tidak ada rasa takut atas ancaman tersebut. Lebih jauh Rangkuti, alasan tidak akan terjadi reshuffle itu terlihat dari respon istana untuk mengunggah potongan pidato tersebut ke media massa.

"Kalaupun reshuffle dilakukan, tak selalu seperti yang dimarahkan. Mungkin karena itulah, dalam 10 hari setelah beliau menyatakan pandangan kerasnya, langkah menteri seperti berlaku biasa saja. Dan mungkin karena itu pulalah, rekaman pidato tersebut akhirnya diunggah ke media sosial resmi istana justru setelah 10 hari berlalu," ucapnya.

"Kalau ada yang baru, unggahan inilah yang baru. Yang menandakan bahwa kemungkinan belum ada perubahan signifikan dalam kinerja kabinet," tambah Rangkuti.