Bagaimana Hutan Menjadi Bagian Hidup Suku Mairasi

Oleh: Indarwati Aminuddin

Ombudsman Telisik.id

Pince Uriyo tergeletak lemas di atas lantai yang hanya beralaskan kain dan baju-baju. Ia mengenakan cawat dari kayu tumbuk—kulit kayu yang ditumbuk halus dan dimodel seperti celana dalam—dengan penutup dada dari katun. Dekat kakinya, tumpukan kayu bakar yang akan dinyalakan malam hari berurai berantakan.

Muka Pince pucat, ia bahkan tak menggerakkan badan saat bayi pertama, perempuan mungil, telanjang bulat, diletakkan di sampingnya. Pince baru berusia 16 tahun, dua hari lalu Ia ke hutan yang berjarak dua jam perjalanan dari rumah modernnya—rumah bantuan Pemerintah, gelap, berantakan, tanpa listrik-- dan melahirkan di hutan dengan bantuan saudara-saudaranya.  Ia kemudian berjalan dari hutan kembali ke kehidupan modern dengan bayi mungil tanpa lilitan kain; lahir tanpa kain, hidup tanpa kain; dengan cara inilah adat suku Mairasi dipertahankan.