“Begitu ia tiba di rumah kami langsung berteriak..bawa apa itu?” cerita Mama Pince. “Anak..Pince! Ia pe anak su lahir..”
Ritual kelahiran kemudian dilanjutkan. Karena ini anak perempuan maka Pince tak boleh meminum air apapun selama 4 hari, termasuk makanan berkuah, atau menyantap daging dari hewan yang memiliki kuku.
Andai, anak yang dilahirkannya lelaki, maka Ia harus puasa air atau makanan berkuah selama 7 hari. Selama masa puasa, Pince hanya menyantap pisang bakar. Bila terjadi kegawatan, misalnya perdarahan atau demam tinggi, maka kerabat Pince mencari tumbuhan hutan yang mengandung air.
Ia tak boleh meminum air yang mengalir atau mengucur atau yang paling sering terjadi, keluarganya mencampur bubuk dari tungku masak ke air dan meminumkannya. Bagaimana bila terjadi infeksi? Kerabat pasti sibuk mencari udang-udang kecil, membakarnya dan memberikannya pada Pince.
Lainnya, Pince tak boleh menyentuhkan air ke badannya, ini artinya ia tak mandi selama sebulan lebih. Darah nifas yang tertampung dalam cawat dicuci oleh keluarganya. sedang anak mungilnya, mulai menyantap pisang masak di hari pertama, anak itupun tak boleh mengenakan selimut, kain atau baju hingga berusia satu tahun. “Ini su adat kami,” kata Mama Pince.
