Oleh: Indarwati Aminuddin
Ombudsman Telisik.id
Di Oktober 2010. Sepuluh tahun yang lalu. Eropa tak menutup cuaca dingin October ketika dua peziarah ini tiba di Wageningen. Mai atau Siti Maemunah dan Kahar tiba di terminal Utrecht dengan wajah lelah. Mai, dengan kepala terliliti kain etnik dan kaus lengan panjang hitam dan backpack membenjol kiri kanan sesak dengan barang-barang yang telah ikut berziarah dengannya. Kahar, pria aktivis lingkungan yang baru kali ini ke Eropa. Bertubuh sedang, dan kedua matanya berbinar-binar menangkap tiap objek depannya. Ia membawa kamera saku yang siap memotret apapun. Syal bermotif kotak-kotak terlilit di lehernya. Pria ini tak menunjukkan tanda-tanda tergigit cuaca dingin. Perjalanan mereka kali ini membawa pesan singkat ; Wahai dunia luar, izinkan Indonesia benar-benar merdeka.
------------------
Mereka tiba di flat sederhana itu nyaris larut malam, setelah kereta melaju melewati kota tujuan seharusnya. Mereka tersesat di kota kecil. Dalam kamar, Mai membuka backpacknya dan mengeluarkan setumpuk isi yang sebagian tak karuan bentuknya. Dokumen, poster, baju, biskuit regal dan sejumlah kaleng susu beruang ,oleh-oleh untuk rekannya, pemilik flat. “Oke semua di sini.” Ia menarik nafas lega lalu membuka laptop dan beberapa menit kemudian mulai asik dengan dokumen yang telah dipersiapkan untuk presentasi di Wageningen University, The Netherland.
