“Ironisnya, apabila anak tiri bangsa ini menyumbangkan jasanya untuk Indonesia, misalnya di bidang bulu tangkis, tidak ada kata-kata, ‘Susi Susanti, WNI keturunan Cina, telah menyumbangkan emas Olimpiade.’ Kalimat yang muncul: Susi Susanti, pahlawan bangsa, putra bangsa. Sebaliknya, jika ada segelintir anak tiri yang nakal, akan ditulis, ‘Bob Hasan, pengusaha Cina licik.’”

Protes Debbie menarik sekali. Orang Tionghoa yang berbuat jahat diungkap etniknya atau nama Tionghoanya. Tapi orang Tionghoa yang berbuat baik tak diungkap etniknya. Soewondo, juga diduga Tempo, sebagai orang yang terlibat skandal Rp 35 miliar dan digambarkan sebagai, “Cina muslim yang sangat leluasa keluar masuk Istana Negara.”

Ternyata protes tak berhenti di sana. Salah seorang redaktur Tempo, Karaniya Dharmasaputra, juga menerima protes tentang atribusi Soewondo ini melalui telepon. Dharmasaputra adalah redaktur yang mencantumkan atribusi kecinaan Soewondo. Kepada saya, Dharmasaputra mengatakan bahwa, seseorang bertanya lewat telepon, “Kok Anda lakukan itu?”

Dharmasaputra menjawab bahwa atribusi itu sebuah kebutuhan. Dia mulanya membaca laporan tim Tempo soal Soewondo dan menilai perlu membubuhkan “keturunan Cina” sebagai kelengkapan penggambaran Soewondo. Maka muncullah frase “Cina muslim” dan “An Peng Sui.”

“Everybody tidak tahu siapa Soewondo itu. Akhirnya saya menuliskan kata keturunan Cina sebagai deskripsi tambahan. Saya sendiri keturunan Cina dan tidak terganggu dengan hal itu,” tutur Dharmasaputra.