Dharmasaputra memang orang Indonesia keturunan Tionghoa. Logatnya Jawa dan alumnus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Orangnya biasa-biasa saja, ramah, mudah bergaul, dan sebagai wartawan prestasinya baik. Dia pernah mendapat penghargaan dari sebuah organisasi wartawan karena karyanya. Tapi Dharmasaputra mungkin berpikir terlalu sederhana dengan atribusi itu.
Saat edisi Soewondo beredar, protes langsung masuk, baik dari Debbie maupun lewat telepon. Ini belum lagi dari orang Tionghoa yang tak suka tapi hanya diam. Dharmasaputra mengatakan tak tahu bagian mana yang salah menurut protes Debbie. Dia merasa tak beritikad buruk terhadap Soewondo atau warga Indonesia keturunan Tionghoa, “Apa salahnya? Ini kan bukan berarti problem.”
Menurunya, sangat perlu menggambarkan identitas Soewondo. Tak ada yang perlu ditutupi sepanjang atribusi itu relevan dan tak mengandung niat menjelekkan kaum tertentu.
“Jadi menurut saya tak usahlah terjebak dengan hal-hal demikian. Saya malah berharap kita lebih rileks menghadapi persoalan-persoalan etnis,” katanya.
Berbeda jika Tempo menulis kalimat dengan yang tujuan negatif, “Misalnya, semua pengusaha Cina itu jahat. Nah, itu baru rasis.”
