Kendari Ekspres dan Kendari Pos, memberitakannya tanpa mencantumkan frasa keturunan Cina dalam berita-berita tersebut. Kedua harian ini hanya menyebut “warga keturunan” –yang di Kendari cukup dimengerti sebagai orang Tionghoa.
Laporan itu dramatis. Tiga gadis muda asal Kabupaten Raha itu melarikan diri dari tempat kerjanya selama 10 bulan dengan luka-luka sekujur tubuh dan tak menerima gaji selama bekerja di sana. Asmah Asmon, wartawati Kendari Pos menerima laporan menjelang deadline. Begitu pula Indah Astriyani dari Kendari Ekspres. Mereka wartawan yang biasa-biasa saja, tanpa punya sentimen anti-Tionghoa, dan mencantumkan “warga keturunan” sebagai dugaan pelaku penganiayaan.
Saat berita itu terbit, isu yang cepat beredar adalah “konflik Cina- pribumi.” Kemarahan warga Raha tak terelakkan. Isu lain bahkan beredar, bahwa belasan kapal laut dari Kabupaten Raha akan tiba pagi harinya, untuk melakukan demonstrasi atas penganiayaan tersebut. Isu ini menakutkan. Orang-orang Indonesia keturunan Tionghoa yang berada di Kendari, merasa perlu cepat-cepat mengeluarkan keterangan pers untuk minta maaf pada warga Kendari.
Tapi warga Raha terlanjur marah. Situasi memanas. Semua toko milik pengusaha keturunan Tionghoa di kawasan perdagangan Mandonga tutup. Aparat berjaga-jaga. Yuliana, si majikan yang dituduh menganiaya, belum diproses secara hukum, namun masyarakat sudah memvonis bahwa perilaku itu dilakukan oleh seorang orang Cina.
Demonstrasi terjadi. Gabungan dari warga Raha dan aktivis Koalisi Peduli Perempuan memadati jalan. Isunya adalah anti-Cina. Teriakan-teriakan anti Cina mulai terdengar di mana-mana. “Bakar saja … gantung orang Cina itu … hancurkan mereka.” Beberapa orang mulai melempar. Mengenai toko dan kaca-kaca rumah penduduk sekitar kawasan Mandonga.
