Untuk memberikan pengalaman yang lebih nyaman, setiap peti mati dihiasi dengan pola bunga dan motif kreatif. Pengunjung dapat berbaring di dalamnya dan meluangkan waktu untuk merenung.
Agar tidak mengganggu prosesi pemakaman, kafe ini sengaja dibangun agak jauh dari gedung utama rumah duka, sehingga pengunjung dapat menikmati waktu mereka dengan tenang.
Untuk pengalaman mencoba tidur di peti mati, pengunjung dikenakan biaya sebesar JPY 2.200 atau sekira Rp 225.000. Meski terkesan tidak lazim, banyak yang tertarik mencoba pengalaman ini, seperti dilansir dari okezone.com, Minggu (8/12/2024).
CEO perusahaan perlengkapan pemakaman, Kiyotaka Hirano, mengatakan bahwa ide konsep ini muncul dari pengalaman kehilangan ayah pada usia 24 tahun, mendorong pemilik kafe untuk menciptakan sebuah ruang yang memungkinkan orang-orang untuk merenung dan menghargai hidup.
“Kebanyakan anak muda memikirkan pernikahan dan hanya sedikit yang memikirkan pemakaman. Namun, setiap orang dapat menyikapi pengalaman ini secara berbeda. Beberapa orang mungkin ingin menutup peti mati selama beberapa menit untuk merenungkan bagaimana mereka ingin hidup sebelum waktu mereka tiba,” kata Hirano.
