Oleh: Indarwati Aminuddin
Ombudsman telisik.id
Musim hujan masih terjadi di sebagian wilayah Indonesia. Di televisi, banjir digambarkan secara masif ; ibu ibu sakit diangkut ke perahu karet, pemilik rumah terduduk di atap rumah menunggu bantuan, pemerintah turun ke areal banjir dan menjanjikan sesuatu—entah apa. Tapi hujan memang deras sekali, sehingga tak hanya di darat urusan banjir jadi memenuhi televisi, di udara pun hujan menyebabkan pesawat—penerbangan dari Jakarta ke Bali berguncang guncang dan pramugari mengingatkan untuk tidak menggunakan toilet, mereka mengkhawatirkan penumpang terjungkal atau menjerit jerit sendiri di ruang toilet bila turbulence hebat terjadi.
Mengingat banjir ini ternyata tak mudah diprediksi, saya khawatir beberapa jadwal Bali dan Kendari akan terganggu. Biasanya banjir membuat sebagian rute jalan dialihkan, janji janji ditunda, lebih parah lagi kita tak bisa menyalahkan siapa siapa karena hujan deras ini. Yah meskipun saya tahu, tak semua areal Bali banjir, demikian halnya Kendari. Namun tetap saja ada genangan di sana sini karena hujan lebat tak berhenti.
Di Bali, bila terjadi banjir, suratkabar mengatakan itu disebabkan oleh drainase yang mampet dan atau air tidak mendapatkan tempat. Sedang di Kendari, tambang dan tata kota jadi kambing hitam bila banjir terjadi. Kota ini menjadi langganan banjir sejak beberapa tahun lalu. Misalnya, di 2018, banjir menyebabkan 3 titik lokasi yakni Lelolepo, Andounohu dan Kambu terendam. Di titik pertama, Lepolepo sekitar 411 rumah terendam banjir yang tingginya 2 meter.
Saya pernah mengalami banjir setinggi 15 centimeter di Makassar, sehari setelah banjir ini, punggung rasanya patah karena bolak balik mengangkat kursi, meja, lemari dan lain lainnya, lalu mengeringkan lantai beberapa kali untuk menghilangkan bau. Aduh saya tak bisa bayangkan bagaimana dengan banjir 2 meter?
