Pendekatan yang dilakukan yaitu sholat berjamaah dan mendatangi pengajian. Blusukan melalui sholat berjamaah dilakukan di masjid-masjid dengan berpindah-pindah (safari Ramadan). Sholat berjamaah dilakukan sebagai bentuk memperkenalkan diri kepada masyarakat.

Dengan semakin banyak melakukan sholat berjamaah maka semakin banyak orang yang mengenal sosok kandidat  dan namanya akan akrab di telinga masyarakat. Hal ini diyakini akan dapat meningkatkan popularitas dan elektabilitas dalam memperoleh suara pada saat pemungutan suara.

Pendekatan kedua yaitu melalui kelompok pengajian dan kelompok masyarakat. Kelompok ini dianggap potensial karena mayoritas beragama Islam penduduk di Sultra. Hanya sayang masih banyak kandidat Pilkada 2024 yang tidak bertemu langsung masyarakat dan sekedar pasang baleho di mana-mana.

Jangan Anda berharap dipilih kalau tetap jaga jarak dan tidak mau bertemu langsung dengan para calon pemilih karena memposisikan diri orang terhormat dan berpendidikan tinggi. Pada dasar dalam  pencalonan masyarakat tidak melihat dari segi pendidikannya namun masyarakat melihat dari segi pendekatannya dan komunikasinya kepada masyarakat bagaimana beliau hadir di tengah masyarakat sebagai tempat keluh kesah mereka selama ini.

Namun, tidak semua calon pemimpin percaya diri bertemu langsung masyarakat ada juga yang tidak percaya diri disebabkan karena adanya kecemasan berkomunikasi yang disebabkan perasaan takut atau tingkat kegelisahan dalam transaksi komunikasi.