Hoegeng empat bulan lagi berusia 103 tahun, sedangkan Pak Koen baru pertengahan Juni 2023 diperingati oleh para muridnya genap 100 tahun. Genap seabad Pak Koen ditandai pesembahan buku Seabad Koentjaraningrat (SK) yang terbit diinisiasi oleh Mulyawan Karim, seorang jurnalis yang juga antropolog. Jika keduanya masih hidup, mereka pasti menyaksikan naik-turun tajamnya kepercayaan masyarakat kepada Polri.
Tentu, mereka juga mencatat dengan baik “Peristiwa Duren Tiga” (PDT) dan “Penjualan Barang Bukti Narkoba” (PBBN), yang “karena nila setitik rusaklah susu sebelanga”. Masing-masing pada kedua peristiwa ini, “aktor utama”-nya jenderal polisi bintang dua dalam jabatan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Polri (“polisinya polisi”) dan orang nomor satu di Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Barat.
Baca Juga: Memetik Budaya Kemanusiaan di Rumah Sakit
Hoegeng dan Pak Koen adalah anak bangsa Indonesia dari suku Jawa. Mereka lahir di tengah budaya yang berbeda. Hoegeng lahir dan bertumbuh menjadi “remaja awal” di Pekalongan, pesisir Jawa Tengah, yang kebanyakan orang-orangnya lebih lugas dan praktis. Terutama dalam berkomunikasi dengan rekan setara. Sementara Pak Koen lahir dan bertumbuh hingga “remaja akhir” di Yogyakarta.
Akan tetapi, bila ditelusur lebih jauh ke belakang, ternyata keduanya berdarah bangsawan. Dari garis ayah yang jaksa di Pekalongan, kakek buyut Hoegeng seorang Adipati di lingkungan Keraton Mataram Yogyakarta, yaitu Kanjeng Pangeran Ario Poerbo Mendoero, seperti terungkap dalam”Hoegeng Polisi Idaman dan Kenyataan” (HPIK) (Yusra dan Ramadhan,1994: 31). Sementara kakek buyut Pak Koen, yakni KGPAA Pakualam VI, diungkap Purbowinoto dalam “Cucu Bupati yang Dipecat Belanda” (Frieda dkk (ed).”SK”, 2023: 199).
