Toh keduanya tetap pribadi yang rendah hati, terbuka, dan sederhana bukan sekadar gaya. Mereka jauh dari hidup mengutamakan kesenangan (hedonis), seperti kini kerap dihebohkan publik tentang gaya hidup sejumlah pejabat dan keluarganya, termasuk di Polri.

Keduanya berintegritas menjalani profesi dan senang langsung kepada pemecahan masalah yang dihadapi. Baik Hoegeng maupun Pak Koen, satu lagi, tak pernah terbetik kabar tentang mereka “memelihara” klik-klikan di lingkungan kerjanya, apalagi “membiakkan” Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Misalnya, untuk pak Koen, tak pernah terdengar kabar ia murahan memberi nilai, namun selalu mendukung kelanjutan studi mahasiswanya, dengan cara mencarikan sekolahnya di Belanda.

Teguh Bersikap

Tak seperti bhayangkara, perwira pertama (pama), dan perwira menengah (pamen) bawahan terhadap kedua jenderal dalam PDT dan PBBN, Hoegeng dan Pak Koen justru teguh bersikap saat berhadap-hadapan dengan penguasa otoriter di zaman Orde Baru (Orba).

Sehari sebelum dilantik menjadi Kapolri, ceritanya, Hoegeng didampingi calon Wakapolri, Teuku Abdul Azis (Mei 1968) menghadap Presiden ke-2 RI, Soeharto untuk di-brief. Penguasa tunggal era Orba itu meminta, agar polisi konsentrasi pada tugasnya sebagai polisi, jangan lagi mikir tugas angkatan, perang-perangan. Hoegeng kemudian bersitegas menyambut, “Baik, Pak Harto. Tapi saya juga meminta agar Angkatan-angkatan lain tidak mencampuri soal-soal kepolisian” (Yusra dan Ramadhan, 1994: 30).