- (sebelum si pengusaha benar-benar menyadari dengan siapa ia berhadapan, Hoegeng naik pitam) Saudara lihat, itu pintu! Jadi saudara tinggal pilih, keluar baik-baik atau saya tendang ke luar pintu itu! Persetan uang kamu itu!

Sebelum peristiwa itu, diketahui, bersama sejumlah pengusaha si pengusaha tersebut pernah dikumpulkan oleh BK untuk membiayai perang (konfrontasi) dengan Malaysia. Ketika itu dia kontan menyumbang Rp50 juta, meski tidak cash. Untuk mencarikan sumbangan dana itu, ia malah minta berbagai fasilitas, antara lain monopoli perdagangan karet di Pulau Sumatera. Bung Karno antusias terhadap sikapnya yang “revolusioner” mau menyumbang besar untuk revolusi yang belum selesai!....(Yusra dan Ramadhan, 1993: 255).

Di masa Orde Baru, demikian kesaksian James Fox, guru besar Australian National University (ANU), ada cerita serupa tentang Pak Koen. Momennya, tak lama setelah terbunuhnya Arnold Ap, antropolog dan kurator Museum Cendrawasih. Pak Koen mengundangnya menghadiri seminar tertutup mengenai Irian Jaya. Seminar dipimpin oleh seorang perwira tinggi militer.

Saat itu Pak Koen lebih banyak diam. Tetapi pada sesi akhir, kata Fox, dengan tenang dan halus Pak Koen berbicara langsung kepada pemimpin diskusi. Ia mengecam tindakan-tindakan militer (tak digambarkan macam apa, pen) sebagai hal yang secara moral tidak benar, patut dikecam secara sosial dan merupakan kebodohan strategis. Pak Koen berbicara dengan jelas, dengan tegas penuh wewenang.

Setelah selesai, perwira yang mengepalai pertemuan itu diam saja dan menutup seminar. “Pak Koen telah mengungkapkan pandangannya sebagai tuduhan yang mengena,” kata Fox (Frieda dkk (ed), 2023: 208).