Dengan sengaja mengulur-ulur waktu, Hoegeng tak berkenan mengeluarkan surat izin orangtua untuk putranya mendaftar taruna AURI. Alasannya, saat itu dia Kapolri. Oleh karena itu, menurutnya, pasti panitia akan memandang jabatannya.
Karena kecintaannya pada Korps Bhayangkara, saat setelah pensiun, ia bersurat ke Kapolri bahwa ada kemewahan yang mencurigakan pada pejabat di lingkungan Mabes Polri, seperti dalam“Hoegeng di Tengah Perilaku Koruptif Pemimpin Bangsa” (Santoso, 2009: 292-293).
Ujung-ujungnya di tahun 1977 itu, betul terungkap, seorang perwira tinggi bintang dua dan bintang satu, serta dua perwira menengah korupsi. Pengadilan militer menghukum mereka bersalah. “Uang yang diselewengkan dari bidang pengadaan barang Polri, tertulis dalam “Biografi Widodo Budidarmo, Semua Karena Kuasa & Kasihnya” (Hasibuan (ed), 2004: 128-130).
Cerita-cerita sesungguhnya itu, cuma beberapa di antara banyak “Karya berkat Kejujuran” yang monumental dari Kapolri ke-5 Hoegeng, sehingga sejak 2022 Polri mengadakan “Hoegeng Awrad” kepada anggotanya yang dinominasikan berdasarkan pilihan rakyat. Semua itu menghantarkan Hoegeng hidup tidak neko-neko, tetap sederhana.
Bahkan, saat harus memilih pensiun jelang “usia tak seharusnya pensiun” (50 tahun) ketimbang didubeskan, ia dan keluarga yang memang tak pernah tinggal di rumah dinas, tetap menghuni rumah kontrakan di Jalan M. Yamin No. 8 Jakarta. Rumah itu, seperti pengakuan penggantinya, M. Hasan, kemudian diberikan kepada Hoegeng.
