Suasana menyimak guru berbicara di sekolah tidak akan bisa diganti oleh menyimak suara gurunya melalui youtube, apalagi jika sambil menerangkan guru itu aktif mendatangi murid-muridnya, suasana itu tentu juga akan menimbulkan perasaan menyenangkan hingga akhirnya pemahaman lebih mudah teresapi oleh murid.

Ketiga, penggunaan sistem elektronik di anak-anak usia dini hingga anak kelas kedua misalnya, tentu saja tidak akan terarah dengan baik, rebutan berbicara yang akhirnya malah mengacaukan jaringan sinyal, kebisingan dalam ruang virtual, dan ketidakjelasan pemantauan seorang guru terhadap perkembangan setiap anak-anak didiknya. Ini menunjukkan PJJ malah menyebabkan penyampaian materi maupun ruang diskusi tidak berjalan dengan baik dan tertib.

Keempat, kita juga tidak boleh melupakan perbedaan aturan yang menunjukkan dilema telah berlangsung lama, seperti, pemerintah menganjurkan anak PAUD-TK tidak terlalu diprioritaskan untuk membaca dan menulis, dengan lebih diutamakan bermain, baru di tingkat SD prioritas itu dilakukan.  

Tetapi kenyataannya sebelum Pandemi terjadi, guru-guru SD tidak terlalu memprioritaskan hal tersebut, karena berpikir guru-guru PAUD-TK sudah menjalankan hal ini, akhirnya guru PAUD-TK “sembunyi-sembunyi” mengajarkan kemampuan membaca pada anak didiknya. Ketika terjadi Pandemi Covid-19 ditambah dengan kebijakan situasi penutupan sekolah, tentu saja kualitas murid-murid mengalami penurunan, jika tidak ingin dikatakan drastis.

Terakhir, pemerintah memprioritaskan pendidikan gratis pada tingkat SD, tetapi dengan situasi ekonomi yang mendera akibat pandemi COVID-19 yang berkepanjangan. Memaksa orang tua murid mencari pembelajaran alternatif melalui Bimbingan Belajar (Bimbel) atau program les, sebab tidak mungkin semua orang tua murid bisa memberikan pengajaran.