Secara filosofi, guru diartikan harus di-gugu dan di-tiru. Hal inilah barangkali yang menyebabkan pengaruh kewibawaan para ulama dan kiai sangat besar. Karena itulah, dalam menjangkau perspektif pembangunan politik di Indonesia dalam arti seluas-luasnya, para ulama sangat berperan dan berpengaruh (Slamet dan Agus, 2019).
Pondok pesantren yang memiliki kekuatan pada kepemimpinan kiai dan juga memiliki pengaruh cukup luas di sekitar lingkungan pesantren, menjadikan pesantren sasaran para kandidat presiden 2024 serta partai politik, baik yang berazaskan agama atau religius atau nasionalis, demikian masif menuju pemilihan Presiden dan legislatif.
Partai Islam atau berbasis umat Islam yang dipimpin oleh kiai atau tokoh Islam sudah tentu akan mendekati atau merangkul kiai di pondok pesantren yang memiliki dukungan massa yang nyata baik di pelosok pedesaan maupun perkotaan.
Tidak hanya partai Islam, tetapi sejumlah partai nasional yang tidak berdasarkan azas keagamaan berlomba-lomba menarik simpati para kiai dan kalangan pesantren. Partisipasi kiai dalam ajang politik praktis tentu saja bukan tanpa maksud dan tanpa tujuan.
Ide kultural untuk menerapkan ajaran Islam yang paripurna (kaffah) menjadi terbuka peluangnya apabila partai yang diusungkan memenangi Pemilu. (Azyumardi: 2002).
