Peran pondok pesantren mengalami orientasi politik pada diri para santri, karena pondok pesantren telah mengalami pergeseran dari kultural ke struktural, dari pembelaan dan pemberdayaan masyarakat ke politik kekuasaan.
Peran santri yang independen ke partisan partai politik tertentu. Kiai sebagai komunikator politik telah terjadi pereduksian bangunan kultural yang berbasisi pada moral force, menjadi orientasi kepada kekuasaan dan simbol-simbol keagamaan yang digunakan oleh tokoh politik untuk menggalang dukungan dan simpati.
Sekali lagi, disinilah politik patronase dan keshalehan akan bekerja dalam memberikan dukungan para kandidat Presiden baik dalam dukungan tanpa syarat ataupun dalam dukungan dengan syarat memposisikan wakil nahdliyin sekali lagi sebagai 02. (*)
