Para pakar Rand Corporation ketika itu yakin bahwa Uni Soviet punya supremasi dalam teknologi rudal dan karenanya, kemungkinan serangan mendadak sangat nyata. Obsesi pada waktu itu adalah bagaimana mencegah supaya kekuatan strategis Amerika tidak akan musnah apabila Uni Soviet melancarkan serangan nuklirnya.
Karena itu, tambahnya, harus punya senjata nuklir yang lebih kuat supaya lawan berpikir dua kali sebelum meluncurkan peluru kendalinya. Daniel Ellsberg pada waktu itu bekerja sebagai konsultan sipil pada Komando Pasukan Amerika di kawasan Pasifik.
Katanya, satu hal yang sangat mengerikan adalah, sekali rudal nuklir itu diluncurkan, tidak ada cara untuk menghentikannya. Ini beda apabila serangan dilakukan dengan menggunakan pesawat terbang, karena pilotnya bisa diperintahkan untuk kembali ke pangkalan.
Kata Daniel Ellsberg lagi, kepada stasiun radio NPR, laporan yang mengatakan bahwa hanya presiden, sebagai panglima tertinggi angkatan perang yang bisa meluncurkan serangan nuklir, adalah tidak betul, dan hanya mitos saja.
Pada tahun 1950-an Presiden Eisenhower menyerahkan tanggung jawabnya untuk meluncurkan serangan nuklir kepada komandan pasukan di Pasifik, atau pada pimpinan Strategic Air Command, atau kepada perwakilannya di Eropa, sekiranya hubungan komunikasi terputus, atau Washington telah hancur, atau presiden tidak mampu melakukannya karena satu dan lain hal.
