Tulisan ini cuma sepenggal dari sedikit tentang almarhum Adrian. Karena, memang sebagian kecil saja yang kuketahui tentang seniman tulen asal Lampung itu. Waktu tepatnya aku mengenal almarhum antara 1978 dan 1992.

Sepanjang kurun tahun-tahun itu pun, terpotong-potong aku mengenalnya, lantaran kami memang tidak selalu kumpul. Ia berkiprah sebagai seniman lukis sesuai panggilan nuraninya. Aku, yang sesekali juga melukis atas dasar sekadar hobi sejak SMP, lebih banyak memenuhi tuntutan profesi jurnalis, “keluyuran” untuk involve dalam kehidupan rakyat jelatah,

Terakhir, ketika dapat kabar ia berpulang dari kakak sulungku, aku sudah sekian puluh tahun putus komunikasi dengannya. Kudengar ia tinggal di bilangan Kaliawi, Kota Bandar Lampung. Aku sendiri di Depok, wilayah Jawa Barat, berbatasan langsung dengan belahan Jakarta Selatan.

Adrian jauh lebih tua daripadaku dan adiknya, Adnan Takelayratoe Sangaji (Nan). Namun, saking akrabnya, Adrian kusapa saja dengan “Yan”. Secara etis, kurang ajar, mungkin ya?! Terpenting, dalam hematku, ia pantas diusulkan sebagai Perintis Batik Lampung.

Usulan itu subjektif, memang! Ya, memang, lantaran aku mengenalnya lebih pada tataran personal. Masih menurut subjektifku, pihak yang pertama-tama layak mengusulkan Yan menyandang gelar Perintis Batik Lampung, adalah jurnalis dan organisasi profesi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lampung.