Sosok-sosok jurnalis, antara lain alm. Sondang Meliala (SIWO-PWI Pusat), alm. Solfian Ahmad (Ketua PWI Lampung), Harun Muda Indrajaya (Ketua SIWO-PWI Lampung), dan Dadang Riswa Wahid (wartawan Lampung Post/SIWO-PWI Lampung) adalah nama-nama yang tidak bisa dilupakan dari event PON 1981 dan  DON 1982.

Dadang terakhir adalah Pemimpin Redaksi I Harian Lensa Generasi (d/h LENSA). Koran harian Lampung ini terbit di Jakarta dan lantaran itu pula kemudian dicabut surat izin usaha penerbitannya (SIUP)-nya oleh rezim penguasa otoriter-represif waktu itu.  

Sekadar catatan, peran jurnalis Lampung terhadap olahraga nasional pada masa itu (1980-an), khususnya sepakbola dan tinju, tak bisa diabaikan begitu saja. Jurnalis di Lampung mendorong, tentu dengan  peran SIWO-PWI pusat yang akomodatif, sampai bisa mewujudkan event nasional sepakbola “Sepatu Emas” (SE) dan “Sarung Tinju Emas” (STE).

Kini kuketahui,  SE dan STE, tak lagi rutin “diputar”. Ketua PWI Pusat saat ini, Atal Depari, pasti tahu itu. Pada masa itu, dia serta sejumlah teman, seperti Djunaidi Tjunti (Suara Karya),  alm, Alfian (Merdeka), Hartono (Kompas), Hardo (Berita Buana), T.H. Poerba (KNI, Lampung), Asnawi Helyan Belinau (Antara, Lampung) sangat atentif terhadap dunia olahraga sepak bola dan tinju.

Pada masa itu, bertumbuhan nama-nama petinju generasi di bawah Syamsul Anwar, antara lain Joni Asadoma (petinju Bali asal NTT, kini Kepala Hubungan Internasional Polri dengan pangkat Irjen Pol), Adi Suwandana (Bali), Sunarto, Amir Hamzah dan Yo Harmen (Lampung).