Wakil Rakyat Tak Mewakili Rakyat
Terbukanya angka-angka terkait pendapatan dan aliran dana wakil rakyat, semakin mendorong banyak orang termotivasi sebagai wakil rakyat. Wakil rakyat dalam bayangan banyak orang begitu menggiurkan, sedikit bekerja tetapi pendapatannya fantastis. Sehingga wajar jika setiap menjelang Pemilu, disiapkan lokasi-lokasi untuk menampung calon anggota legislatif (caleg) yang gagal berupa rumah sakit jiwa maupun tempat terapi kejiwaan.
Padahal menjadi wakil rakyat itu tidak enak tak seperti yang diperkirakan. Saifullah Ma’shum melalui bukunya “DPR terhormat DPR dihujat,” yang menjelaskan refleksi dirinya sebagai wakil rakyat dan juga bentuk pelaporan kinerjanya selama 5 tahun pada periode 2004-2009 dalam format buku.
Ia bercerita, tentang seorang anggota legislator yang merasakan tekanan dalam dirinya sehingga yang bersangkutan sering keluar-masuk ruangan. Berkali-kali ia menuju toilet dan terkadang berdiam diri di depan pintu masuk ruang rapat.
Ternyata ia mengalami konflik di dalam dirinya, bahwa dirinya mengalami minder, ingin berbicara tetapi takut salah dan merasa tidak berani, sehingga mengurungkan niatnya, namun diam saja tentu tidak enak (Saifullah Ma’shum, Penerbit KCP: 2012).
