Oleh: Prof. Abd. Rasyid Masri

Akademisi dan Pebisnis

INDONESIA tidak kekuragan orang pintar. Di media sosial viral samacam sticker tulisan menyebutkan, kurang lebih 6.000 profesor, sekitar 45.000 bergelar doktor dan 250.000 dosen. Belum lagi jumlah para kiyai dan ustad yang sulit dihitung jumlahnya, serta cerdik pandai lainnya.

Tapi sayang, banyaknya orang pandai dan cendikia di Indonesia tidak berbanding lurus dengan tingkat kepedulian sosial. Banyak yang cerdas di republik ini, tapi kurang yang peduli terhadap kondisi sosial bangsa ini. Kurang yang peduli pada sisi kemanusian, sehingga tak salah kalau tulisan ini membidik krisis kepedulian sosial.

Banyak cendikiawan yang dijangkiti penyakit cuekisme dan asosial. Meminjam istilah Muhammad Wayong, Ph.D bahwa karakter masyarakat Indonesia banyak yang menganut prinsip SDM, yakni ‘selamatkan diri masing-masing'.